
Jakarta, The Novel Orange Indonesia
—
Museum
kini perlahan berubah wajah. Jika dulu identik dengan rombongan
study tour
sekolah, kini museum justru semakin ramai dikunjungi anak muda yang datang atas kemauan sendiri.
Mulai dari museum date, berburu stempel museum passport, hingga sekadar menikmati pameran terbaru, museum kini menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda. Perubahan tren ini juga tercermin dari data kunjungan yang dimiliki Indonesia Heritage Agency (IHA).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Museum dan Cagar Budaya Indonesia Heritage Agency (IHA), Indira Estiyanti Nurjadin mengatakan, jumlah pengunjung museum yang berada di bawah naungan IHA mengalami lonjakan signifikan sejak lembaga tersebut mulai beroperasi.
“Karena Indonesia Heritage Agency baru dibentuk pada 2023 dan mulai beroperasi pada 2024, kami baru bisa membandingkan data dari 2024 ke 2025, Namun, kunjungan naik sekitar 218 persen,” ujar Indira kepada
The Novel OrangeIndonesia.com
, Sabtu (11/7).
Jika dirinci, angka kunjungan mencapai 704.506 pada 2024. Angkanya kemudian naik drastis menjadi 1.536.375 kunjungan pada 2025.
Meski data 2026 masih dalam proses evaluasi, Indira mengatakan, sejumlah pemangku kepentingan telah melihat perubahan pola kunjungan museum di Indonesia.
“Kalau ini bukan kami yang bilang, tapi dari beberapa stakeholder, kunjungan ke museum sekarang sudah menjadi lifestyle,” katanya.
Anak muda mendominasi kunjungan museum
Menurut Indira, tren tersebut terlihat dari profil pengunjung Museum Nasional. Kelompok usia 18-24 tahun menjadi penyumbang kunjungan terbanyak, menggeser dominasi rombongan pelajar yang selama ini identik dengan wisata museum.
“Pengunjung terbanyak justru usia 18-24 tahun. Mereka datang karena memang ingin datang, bukan lagi karena school trip,” ujarnya.
Fenomena ini, kata Indira, menunjukkan museum telah berkembang melampaui fungsi edukasi formal.
“Kalau school trip kan tidak punya pilihan, harus ikut. Sekarang yang datang itu karena kesadaran sendiri. Makanya sekarang hashtag seperti museum date sudah sangat populer, terutama di Jakarta,” katanya.
Museum Passport ikut dorong tren berkunjung
Salah satu program yang ikut mendorong antusiasme tersebut adalah Museum Passport, buku paspor yang memungkinkan pengunjung mengumpulkan stempel dari berbagai museum di Indonesia.
Program ini diluncurkan bertepatan dengan Hari Museum Internasional pada 18 Mei. Awalnya, Museum Passport hanya dirancang untuk 19 museum di bawah Indonesia Heritage Agency. Namun, konsep tersebut kemudian diperluas menjadi program nasional.
“Kami berpikir kenapa tidak dibuat lebih inklusif saja. Akhirnya, Museum Passport menjadi untuk seluruh Indonesia. Museum-museum di seluruh Indonesia bisa ikut berpartisipasi dengan membuat stempel mereka sendiri,” kata Indira.
Museum Passport juga dilengkapi direktori lebih dari 300 museum yang telah terdaftar di Kementerian Kebudayaan, mulai dari Aceh hingga Papua. Menurut Indira, keberadaan direktori ini diharapkan membantu masyarakat menemukan museum-museum yang mungkin belum banyak dikenal.
“Kami ingin orang melihat, ternyata di daerahnya ada museum yang menarik untuk dikunjungi,” tuturnya.
Inspirasi Museum Passport sendiri datang dari Jepang dan Korea Selatan, yang memiliki budaya mengumpulkan stempel di berbagai destinasi wisata.
“Kami melihat tradisi mengumpulkan stempel yang dulu populer seperti era 1980-an ternyata kembali menjadi tren di Gen Alpha. Kami mencoba mengambil momentum itu,” kata Indira.
Desain Museum Passport pun disusun berdasarkan survei kepada generasi muda, mulai dari pemilihan warna hingga konsep visual agar sesuai dengan selera Gen Z dan Gen Alpha
“Dalam tiga hari, 5.000 Museum Passport sold out. Sekarang kami sudah mencetak lagi 15 ribu, jadi total sudah 20 ribu,” timpal Indira.
Menurutnya, Museum Passport juga berhasil menjangkau komunitas baru yang sebelumnya tidak terlalu tertarik mengunjungi museum.
“Orang yang awalnya hanya tertarik mengumpulkan stempel, akhirnya masuk juga ke museumnya. Tidak apa-apa, yang penting mereka mulai datang,” katanya.
Simak selengkapnya di halaman berikutnya..
Meski tren kunjungan meningkat, Indira menilai museum tidak bisa hanya mengandalkan koleksi permanen untuk menarik pengunjung. Ia mengatakan, museum harus terus beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat melalui berbagai aktivasi, pembaruan pameran, hingga peningkatan fasilitas.
“Kami tidak bisa hanya berpikir punya koleksi bagus lalu orang pasti datang. Museum juga harus terus relevan dengan generasi muda,” ujarnya.
Salah satu caranya adalah menghadirkan pameran temporer secara rutin.
“Kalau pameran tetap memang harus ada, tapi pameran temporer juga harus terus berjalan. Generasi sekarang cepat bosan, jadi harus selalu ada sesuatu yang baru,” katanya.
Selain isi pameran, museum juga mulai memperhatikan kenyamanan pengunjung. Dari hasil evaluasi, salah satu kebutuhan yang paling sering disampaikan adalah tersedianya area makan yang lebih memadai.
“Awalnya kami membuat kantin, tapi sekarang ternyata sudah tidak mencukupi lagi. Kami sedang memikirkan kemungkinan membuat food court di Museum Nasional atau kafe di Galeri Nasional,” ujar Indira.
Menurutnya, peningkatan fasilitas juga menjadi alasan yang dapat membenarkan penyesuaian harga tiket museum.
“Saya rasa kalau ada kenaikan harga tiket, memang harus diikuti dengan peningkatan layanan. Misalnya ada ruang pamer baru, fasilitas baru, food court, ruang anak, atau layanan lain yang memang membuat pengalaman berkunjung menjadi lebih baik,” katanya.
Ke depan, Indonesia Heritage Agency juga menyebut sedang bersiap menghadapi potensi lonjakan pengunjung seiring beroperasinya jalur MRT yang akan berhenti tepat di kawasan Monas pada 2027, berdekatan dengan Museum Nasional.
Add
as a preferred
source on Google
Museum Harus Terus Berinovasi
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN:
1
2
Baca lagi: Waspada, Pembuat Meme Olahraga Wajib Taati Aturan Hak Cipta
Baca lagi: Pakar: El Nino Tahun Ini Berpotensi Pecahkan Rekor Terkuat 150 Tahun
Baca lagi: KPK Sita Mobil Pajero Sport dari Istri Bupati Kuansing



