Iseng Saat Terbang, Pilot Ukir Tulisan ‘Saya Bosan’ di Langit

Jakarta, The Novel Orange Indonesia

Jika kebanyakan orang mengusir rasa bosan dengan mencoret-coret kertas atau bermain ponsel, seorang pilot maskapai

penerbangan

di Inggris memilih cara yang lebih ekstrem: mengukir tulisan ”

I’m bored

” atau “Saya bosan” di langit menggunakan jalur penerbangan pesawatnya.

Aksi iseng tersebut dilakukan sang pilot saat mengemudikan penerbangan uji selama dua jam di ketinggian 1.100 kaki atau sekitar 335 meter di atas wilayah Inggris.

Situs pelacak penerbangan,

Flightradar24

, berhasil menangkap rekaman jejak rute penerbangan yang membentuk tulisan tersebut pada penerbangan Sabtu (11/7) pagi waktu setempat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan data pelacakan, pesawat milik maskapai Ravenair tersebut lepas landas dari kota Liverpool di pesisir barat laut Inggris. Pesawat kemudian melintasi kawasan Semenanjung Wirral dan Cheshire sebelum menyeberang ke wilayah Wales utara.

Selama kurang lebih 20 menit, pilot dengan lihai manuver meliuk-liuk membentuk huruf demi huruf di atas Muara Dee, meninggalkan “tanda tangan” pesan jenaka yang dapat terlihat jelas pada radar.

Pihak maskapai Ravenair menjelaskan bahwa pesawat berjenis Piper Tomahawk tersebut sedang menjalani uji terbang oleh seorang instruktur penerbangan berusia 20-an tahun setelah dilakukan penggantian komponen mesin.

Manajer Operasional Ravenair, Wayne Barrett, membenarkan kejadian unik tersebut. “Saya rasa pilot tersebut secara harfiah memang sedikit bosan karena ini hanya penerbangan uji coba,” ujar Barrett, seperti dilansir

The Novel Orange

.

“Tapi harus diakui, kemampuan terbangnya sangat terampil,” sambungnya.

Barrett menjelaskan bahwa silinder pesawat baru saja diganti, sehingga membutuhkan uji penerbangan untuk memastikan keamanannya sebelum kembali dioperasikan. Silinder pesawat adalah komponen krusial tempat pembakaran bahan bakar.

Hasil pengujian menunjukkan pesawat dalam kondisi sangat baik. Barrett pun berseloroh bahwa manuver sang pilot sebenarnya membutuhkan tingkat konsentrasi yang sangat tinggi.

“Dia bilang bosan, tetapi pada akhirnya dia harus berkonsentrasi penuh untuk bisa mengeja kata-kata itu dengan rapi. Jadi sebenarnya dia jauh dari kata bosan,” gurau Barrett.

[Gambas:Instagram]

Pihak manajemen memastikan pilot muda tersebut tidak akan mendapatkan sanksi atau teguran atas aksi isengnya. “Pesawat kini sudah terparkir aman di hanggar, dan pilotnya sedang menikmati hari libur,” tambah Barrett.

Aksi mengukir pesan di udara ini bukanlah yang pertama kali terjadi di dunia penerbangan. Pada tahun 2020 lalu saat pandemi COVID-19 melanda, seorang pilot di Austria juga pernah melukis jejak penerbangan bertuliskan “Stay Home” atau Di Rumah Aja di selatan kota Wina untuk mengimbau masyarakat mematuhi protokol kesehatan.

(wiw)

Add

as a preferred

source on Google

Baca lagi: Pakai Nitrogen Membuat Tekanan Udara Ban Lebih Awet?

Baca lagi: Anak Disabilitas Jadi Bintang Utama Film ‘Istimewa’

Baca lagi: Spek Land Cruiser 300, Barang Suap Bupati Kuansing yang Tembus Rp2 M

4 Responses

  1. Akhirnya nemu juga tulisan yang mengupas tuntas materi ini dengan bahasa yang santai. Makasih min. Info pelengkap yang searah bisa dicek juga lewat tautan https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320646834_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320586812_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320100391_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F296895327_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320325444_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297269816_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320363381_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F296884368_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320405553_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320438444_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297566357_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320386873_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297262160_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F296888908_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297471795_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320027375_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320356013_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320736537_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297504816_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297031361_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320416181_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320227861_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320172022_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297508375_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297061248_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F296935972_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297497030_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297543444_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F296916729_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297562156_htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: