
Daftar Isi
Roda koper lebih kotor daripada dudukan toilet
Hindari menyimpan koper di atas tempat tidur
Cara menjaga koper tetap bersih
Jakarta, The Novel Orange Indonesia
—
Koper menjadi salah satu barang terkotor yang kamu bawa saat
liburan
atau bepergian. Untuk itu, kamu harus memperhatikan tempat untuk meletakkannya.
Namun, siapa sangka masih banyak orang menaruh
koper
secara sembarangan, meski sudah tahu bahwa koper rentan membawa banyak kotoran dan bakteri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meletakkan koper sembarangan nyatanya dapat membuat kuman ikut berpindah ke area yang seharusnya bersih.
Roda koper lebih kotor daripada dudukan toilet
Penelitian menunjukkan bahwa bagian paling kotor dari koper adalah rodanya. Sebab, bagian ini bersentuhan dengan beragam permukaan yang kotor serta kerap luput dibersihkan oleh pemiliknya.
Melansir situs Reader’s Digest, sebuah penelitian yang dilakukan perusahaan asuransi perjalanan asal Inggris, Insure and Go, menguji tingkat kebersihan beberapa koper yang digunakan wisatawan.
Dalam penelitian tersebut, seorang ahli mikrobiologi mengambil sampel dari 10 koper, baik koper berbahan keras maupun lunak. Sampel juga diambil dari beberapa fasilitas umum di bandara, seperti dudukan toilet, tombol flush, dan pegangan troli koper untuk dijadikan pembanding.
Hasilnya cukup mengejutkan. Roda koper menjadi bagian yang paling banyak mengandung bakteri, bahkan jumlahnya mencapai sekitar 58 kali lebih banyak dibanding dudukan toilet umum.
Para peneliti menemukan berbagai jenis mikroorganisme yang umum ditemukan di lingkungan, seperti bakteri Staphylococcus, Serratia marcescens yang sering ditemukan di area kamar mandi, hingga beberapa jenis jamur, termasuk Aspergillus.
Meski tidak semua mikroorganisme tersebut berbahaya bagi orang sehat, jumlahnya yang sangat banyak tetap membuat roda koper menjadi salah satu benda yang perlu diperhatikan kebersihannya.
Hindari menyimpan koper di atas tempat tidur
Situs Yahoo Travel menuliskan salah satu kebiasaan yang sering dilakukan wisatawan adalah langsung meletakkan koper di atas kasur hotel agar lebih mudah membongkar barang bawaan.
Padahal, kebiasaan ini justru berisiko memindahkan bakteri dari roda atau bagian bawah koper ke seprai dan bantal yang digunakan untuk beristirahat. Selain bakteri, koper juga berpotensi membawa kutu kasur (bed bugs) jika sebelumnya bersentuhan dengan area yang terkontaminasi.
Sebaiknya gunakan rak koper yang biasanya tersedia di kamar hotel. Jika tidak ada, letakkan koper di lantai yang bersih atau di area kamar mandi yang mudah dibersihkan.
Cara menjaga koper tetap bersih
Agar koper tidak menjadi sumber penyebaran kuman, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan
Lap roda menggunakan tisu disinfektan atau kain yang dibasahi air sabun sebelum koper disimpan kembali di rumah.
Gunakan rak koper atau letakkan di lantai agar kotoran dari bagian bawah koper tidak berpindah ke tempat tidur.
Pegangan koper sering disentuh setelah memegang berbagai fasilitas umum. Bersihkan bagian ini secara berkala menggunakan tisu berbahan alkohol.
Bagian luar koper juga bersentuhan dengan lantai bandara, bagasi pesawat, dan troli. Mengelap seluruh permukaan koper dapat membantu mengurangi bakteri yang terbawa pulang.
Setelah mengangkat atau membersihkan koper, biasakan mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer sebelum menyentuh wajah atau makan.
Demikian tempat terburuk untuk menaruh koper yang jarang diketahui orang. Semoga bermanfaat.
(sac/fef)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video The Novel Orange]
Baca lagi: 7 Penyebab Kelelahan, Ternyata Enggak Bisa Kamu Sepelekan
Baca lagi: Prabowo Ungkap Pindad Kantongi Kontrak Senapan Pesanan Arab Saudi
Baca lagi: Momen Pelepasan Jenazah almarhum Rachmat Gobel ke TMP Kalibata




11 Responses
Artikel ini berhasil merumuskan formulasi taktis yang menguntungkan dari segi efisiensi dan optimalisasi alokasi sumber daya. https://teknokrat.ac.id/tips-waktu-yang-tepat-untuk-belajar/
Penulis membuktikan bahwa tulisan yang berbasis riset ketat tetap mampu disajikan secara elegan, lugas, dan sangat mencerahkan. https://coursework.uma.ac.id/index.php/psikologi/search
Ngebantu banget penjelasannya, mantap! Sekalian share aja, buat kalian yang butuh materi serupa bisa cek https://kldp.org/comment/262792 saya dapet banyak info juga dari sana.
Top banget artikelnya! Nggak nyesel nyempetin waktu buat baca. Barangkali butuh bacaan tambahan, referensi dari https://kldp.org/comment/253845 juga patut buat dicek.
Penulisan artikelnya sangat runut sehingga mudah dipahami. Saya juga ingin berbagi tautan https://www.newswire.co.kr/newsRead.php?no=289340 di sana ada tulisan serupa yang bisa dijadikan rujukan tambahan.
Penulis menyajikan studi kasus yang sangat kontekstual dengan realitas saat ini, membuat proses adopsi ilmu menjadi jauh lebih cepat https://moral.senate.go.th/blog/index.php?nonjscomment=1&comment_itemid=447&comment_context=10614&comment_component=blog&comment_area=format_blog&blogpage=323
Mantap ulasannya, selalu seneng baca artikel di blog ini. Kebetulan saya juga nyimpen tautan https://carwrap.justmakeweb.com/index.php?board_cat_id=1492&board_topic_id=15242&page_id=board buat bahan bacaan tambahan yang senada.
Tulisan yang rapi dan to the point banget. Kalau ada yang pengen nambah perspektif dari sudut pandang lain, referensi di https://moral.senate.go.th/blog/index.php?lang=en&blogpage=301 sangat layak buat disimak.
Ulasannya sangat rapi dan penyampaian materinya terstruktur dengan baik. Menarik sekali! Untuk yang mencari pelengkap pembahasan ini, silakan kunjungi https://www.dibiz.com/permahealthketogummiescanadalossweight
Penjelasan yang luar biasa rapi dan sangat kontekstual dengan materi yang lagi saya cari. Keren abis! Kemarin saya juga tidak sengaja menemukan materi pendukung yang searah lewat tautan https://bresdel.com/blogs/349139/https-www-facebook-com-Impactgardencbdgummiesbooster
Data yang disajikan sangat akurat dan relevan sekali dengan apa yang lagi saya pelajari. Mantap abis! Tambahan data pelengkap lainnya dari sumber berbeda ada di https://portal.afya.com.br/saude/a-historia-do-doping-nos-esportes-olimpicos