Kala 2 Juta Pengunjung Museum Tiap Tahun Datang Lihat ‘Kubis Palsu’

Jakarta, The Novel Orange Indonesia

National Palace

Museum

(NPM) di Taipei, Taiwan, menyimpan hampir 700 ribu artefak bersejarah dari era Kekaisaran China. Dari sekian banyak benda bernilai tinggi tersebut, ukiran batu giok berbentuk kubis bernama

Jadeite Cabbage

justru menjadi magnet utama wisatawan.

Melansir

Stuff

, ukiran setinggi 18,8 sentimeter ini memiliki ruang pameran tersendiri di NPM. Pihak pengelola bahkan kerap mengumumkan jika karya ini sedang menjalani ‘perjalanan bisnis’-istilah khusus saat ukiran dipinjamkan atau dipamerkan ke museum luar negeri.

Mengutip

The Novel Orange

, museum ini menerima sekitar dua juta pengunjung setiap tahun. Antrean panjang wisatawan yang bersabar untuk mengabadikan gambar menjadi bukti popularitas ukiran kubis giok tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Secara visual,

Jadeite Cabbage

menampilkan gradasi warna hijau pada daun dan putih pucat di bagian pangkal. Seniman pembuatnya-yang hingga kini anonim-secara cerdas memanfaatkan cacat alami batu giok untuk membentuk detail urat daun.

Jika dicermati lebih dekat, terdapat ukiran ekor tonggeret dan belalang yang tersembunyi di balik lipatan dedaunan.

Selain keindahannya,

Jadeite Cabbage

menyimpan rekam jejak sejarah yang panjang. Karya seni ini dulunya tersimpan di Kota Terlarang Beijing sebagai bagian dari koleksi kekaisaran.

Pascaruntuhnya Dinasti Qing pada 1912, ukiran ini ditemukan di dalam wadah enamel dan mulai dipamerkan kepada publik di Palace Museum Beijing pada 1928.

Akibat gejolak politik dan konflik yang meluas, ukiran kubis ini kemudian diungsikan bersama ribuan artefak kekaisaran lainnya ke Taiwan.

Karya ini lama dikaitkan dengan simbol kesucian, kesuburan, dan kemakmuran, meski sejumlah sejarawan seni menilai ukiran ini bukanlah sebuah mahakarya teknis yang luar biasa.

Kini, popularitas

Jadeite Cabbage

telah menjelma menjadi komoditas suvenir komersial, mulai dari replika, gantungan kunci, hingga boneka.

Seorang mantan peneliti museum bahkan menyamakan fenomena kubis giok ini dengan penyanyi

one-hit wonder,

sosok yang dikenal luas sepanjang masa hanya karena satu karya populer. Dalam hal ini, ‘lagu hit’ tersebut berbentuk seonggok batu giok berukuran 19 sentimeter yang diukir menyerupai sayuran.

(dsd/wiw)

Baca lagi: Kemlu: RI Komunikasi dengan Tetangga soal Karhutla, Belum Ada Protes

Baca lagi: FOTO: Gua UNESCO Bosnia Jadi Tempat Berteduh Turis dari Cuaca Panas

Baca lagi: Ternyata Astronaut Sering Sembelit di Luar Angkasa, Ini Alasannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: